Hello, Moms!

Selamat datang di blog saya, Diari Is, blog yang berisikan tentang tips parenting dan catatan keseharian saya sebagai seorang ibu.

Rabu, 21 Juli 2021

5 Cara Mengatasi Stres pada Ibu Rumah Tangga

5 Cara Mengatasi Stres pada Ibu Rumah Tangga

Mengatasi Stres pada Ibu Rumah Tangga

Moms, hemat saya, penting sekali bagi kita untuk mengetahui apa saja cara-cara mengatasi stres pada ibu rumah tangga.

Walau aktivitas harian kita hanya seputar urusan-urusan di dalam rumah, bukan berarti kita kebal stres, lho.

Banyak hal yang harus kita kerjakan setiap hari yang bukan cuma menguras tenaga, melainkan emosi kita juga.

Mengatasi anak susah makan, menyiapkan segala kebutuhan suami, dan berbenah rumah hanyalah secuil drama yang umumnya terjadi.

Belum lagi jika Anda juga punya pekerjaan sampingan seperti saya, yakni ngeblog dan menulis lepas, maka ketabahan adalah kunci utama yang menguatkan kita agar sanggup menjalani semuanya sekaligus.

Tapi, setabah apapun kita, bukankah kita cuma manusia biasa? 😢

Ada kalanya kita lelah dan muak dengan segala kesibukan yang menggerogoti tubuh dan jiwa kita.

Jika tidak ditangani dengan baik, penat yang menumpuk itu berisiko menjelma menjadi stres.

Bahkan, kalau dibiarkan berlarut-larut, bukan hal mustahil seorang ibu rumah tangga menderita depresi.


Penyebab Stres pada Ibu Rumah Tangga

Sebetulnya, apa yang menyebabkan stres pada ibu rumah tangga?

Toh, yang dilakoni setiap hari tidak jauh-jauh dari pekerjaan rumah tangga "sederhana".

Iya, "sederhana", bagi yang belum pernah mengalami sendiri betapa melelahkannya menjadi seorang ibu rumah tangga! 😠

Sungguh, jadi ibu rumah tangga itu pekerjaan yang sangat melelahkan.

Bayangkan, kita harus "bekerja" 24 jam dalam sehari, lebih-lebih lagi jika anak-anak kita masih berumur sangat belia dan butuh pengawasan terus-menerus.

Bukan cuma 24 jam sehari, tapi 7 hari seminggu, 4 minggu sebulan, dan 12 bulan setahun kita harus "bekerja", tanpa jatah libur bahkan di hari-hari besar nasional sekalipun (kecuali sakit)!

Pun, yang dikerjakan itu-itu saja, alias monoton dan tidak bervariatif.

Bosan?

Jelas!

Sayangnya, tidak ada kesempatan untuk kabur dari rutinitas itu.

Terlebih lagi, walau yang dikerjakan sehari-hari tampak sederhana dan remeh, tetapi jumlahnya yang di luar batas wajar itulah yang membuat pekerjaan-pekerjaan itu jadi sumber stres.

Di saat yang bersamaan, kita juga bertanggung jawab dalam mengasuh anak.

Yang paling bikin saya jengkel adalah saat mendengar pasangan atau orang lain dengan santainya berkomentar, "Kok, cucian masih numpuk / makan malam belum siap / halaman depan kotor? Kamu ngapain aja di rumah?"

Duh, saya kepengin getok kepalanya, deh! 💢

Eh, kok, malah jadi marah-marah begini?

Aduh, maaf, saya terdistraksi lantaran emosi mengingat kembali celetuk sembrono orang-orang yang kurang pemahaman mengenai beratnya peran seorang ibu rumah tangga. 😧

Baik itu dengan atau tanpa bantuan asisten, jadwal ibu rumah tangga akan selalu padat!

Dan, meski telah mengerahkan usaha terbaik kita, tidak semua hasil pekerjaan kita diapresiasi dengan semestinya.

Menurut saya, perkara-perkara inilah yang menyebabkan ibu rumah tangga rentan terjangkiti stres.

Dan, seperti yang telah saya sebut tadi, apabila tidak tertangani dengan baik, maka stres itu dapat berujung pada depresi.

Ini bukan fenomena baru.

Mengutip dari Psycom, ibu rumah tangga (terlebih lagi mereka yang mengasuh anak usia belia) punya frekuensi marah, sedih, dan frustrasi yang lebih tinggi ketimbang ibu yang bekerja.

Inilah pentingnya mengetahui cara mengatasi stres pada ibu rumah tangga, seperti yang saya tegaskan di awal tulisan ini.


5 Cara Mengatasi Stres pada Ibu Rumah Tangga

Lantas, bagaimana cara mengatasi stres pada ibu rumah tangga?

Apakah memungkinkan untuk memanjakan diri atau rehat di tengah-tengah kesibukan yang ada?

Jawabannya: Ya, bisa!

Saya sendiri selalu menyempatkan untuk merilekskan diri, meski tidak bisa terlalu sering.

Namun, setidaknya itu cukup untuk mengurangi tekanan mental yang saya terima.

Dan, jika Moms mau meniru langkah-langkah yang saya ambil untuk meringankan stres yang Anda hadapi, baca penjelasannya satu-persatu di bawah ini, ya.


1. Lakukan Hobi di Waktu Luang

Satu hal yang saya sadari semenjak saya menjadi seorang ibu adalah berkurangnya waktu yang saya punya untuk me-time.

Sebelum melahirkan anak, apalagi ketika melajang, prioritas utama saya ya diri saya sendiri.

Namun, begitu saya menjadi seorang ibu dan harus mengasuh anak, prioritas saya pun berganti padanya.

Alhasil, dulu saya punya anggapan buruk, bahwa menyisihkan sedikit waktu untuk diri sendiri ibarat dosa besar buat saya.

Ini juga boleh jadi karena saya tumbuh besar melihat Mama yang jarang sekali menghabiskan waktu untuk dirinya sendiri selepas bekerja.

Mama selalu menyibukkan diri dengan berbagai macam pekerjaan rumah tangga hingga waktu tidur tiba.

Barangkali, anggapan negatif itu saya peroleh dari mengamati Mama yang seakan-akan tidak punya waktu libur sama sekali.

Nyatanya, me-time itu sangat diperlukan, apalagi oleh ibu rumah tangga yang sepanjang waktu berada di rumah.

Lantaran tidak ada batasan yang jelas antara kapan "shift kerja" dimulai dan diakhiri, tekanan pikiran pun menghantui.

Kita juga butuh istirahat, Moms.

Lagipula, kalau kita terus-menerus memaksakan diri untuk bekerja, ada masanya tubuh kita tidak lagi sanggup memenuhi tuntutan itu.

Jadi, sebelum ambruk (dan hilang kewarasan), tidak ada salahnya menyempatkan barang beberapa menit per hari untuk menekuni hobi lama yang barangkali sudah bertahun-tahun tidak kita tekuni. 💖

Saya sendiri, contohnya, mencuri-curi waktu untuk membaca buku manakala saya sempat.

Rasanya seperti oasis di tengah gurun pasir yang kering kerontang, Moms. 🌴

Atau, kalau sangat tidak memungkinkan, memainkan game klasik di ponsel jadi alternatif buat saya.

Apapun hobi Anda, coba sempatkan untuk melakukannya di sela-sela kesibukan Anda.

Ketika si kecil tidur siang, misalnya, manfaatkan waktu luang tersebut untuk menonton drama kesukaan Anda.

Pandai-pandailah melihat kesempatan. Waktu luang itu pasti ada, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya.


2. Beri Apresiasi untuk Diri Sendiri

 

Moms, bagaimana rasanya jika usaha kita tampak seperti titik kecil di mata orang lain?

Wajar jika kita berkecil hati ketika anak, pasangan, mertua, atau orang tua kandung sendiri meremehkan kerja keras kita.

Saya pernah merasakannya.

Walau suami tidak terang-terangan mengomentari hasil pekerjaan saya, saya bisa mengetahuinya dari bahasa tubuhnya.

Contohnya, ia kelihatan ogah-ogahan saat saya menyajikan makanan tertentu, yang rupanya kurang ia sukai.

Atau, saat Papa berkunjung ke rumah dan bukannya bermain dengan sang cucu, malah menghabiskan sepanjang sore memangkas tanaman di halaman depan rumah.

Betul kata orang, ignorance is bliss.

Andai saya tahu isi hati mereka, bisa-bisa saya makin gondok sejadi-jadinya! 😖

Rasanya seperti sia-sia mengerahkan usaha terbaik saya di setiap kesempatan.

Toh, tidak ada seorangpun yang tahu bagaimana cara menghargainya!

Eh, rupa-rupanya pola pikir saya salah besar, dong.

Ada, masih ada satu orang yang tahu bagaimana cara menghargai kerja keras saya.

Ya, saya sendiri orangnya!

Anda pun sama, Moms.

Jika Anda merasa Anda kurang menerima apreasiasi yang setimpal atas dedikasi tinggi Anda terhadap keluarga dari orang-orang yang Anda layani, maka saatnya untuk mengapresiasi diri Anda sendiri.

Karena, kalau bukan dari kita, lalu dari siapa lagi?

Sesekali, hadiahi diri sendiri dengan jajanan atau paket reflexology yang sudah lama kita idam-idamkan.

Jadikan saat-saat tersebut sebagai ajang penghargaan dan syukur terhadap diri sendiri yang tidak kenal lelah dan putus asa.

Coba pikir, apa jadinya jika kita menyerah di tengah jalan?

Maka, saya pikir, tidak ada salahnya sesekali memanjakan diri sendiri sebagai bentuk self-appreciation dan self-reward.

Jangan tunggu orang lain untuk melakukannya.

Mulai dari diri sendiri.


3. Jangan Sungkan Meminta Bantuan dari Orang Lain

 

Beberapa ibu rumah tangga mungkin merasa kurang aman jika mempercayakan pengasuhan anak pada nanny atau orang lain.

Atau, barangkali di benaknya, terpatri gambaran seorang ibu rumah tangga yang tidak sempurna lantaran ketidaksanggupan untuk mengerjakan semuanya seorang diri.

Sejatinya, ini termasuk pola pikir yang merusak.

Faktanya, di dunia ini memang tidak ada satupun manusia yang sempurna, tidak terkecuali ibu rumah tangga. 😂

Jadi, jangan bercita-cita yang muluk-muluk dengan mengharapkan kita mampu mengerjakan semuanya seorang diri.

Moms, apa jeleknya, sih, meminta bantuan ketika diperlukan?

Apa itu berarti kita lemah?

Jelas tidak, dong!

Malahan, mengakui ketidakmampuan dan ketidakberdayaan Anda adalah langkah awal mencegah stres pada ibu rumah tangga, yang sayangnya, banyak ibu sepelekan.

Alasannya seperti yang saya sebutkan tadi, mungkin takut dicap tidak kompeten.

Padahal, tenaga kita terbatas.

Alhasil, kapanpun memungkinkan, saya tidak ragu untuk melakukan outsourcing.

Ketika sekujur badan terasa remuk redam akibat efek haid, saya bersyukur sekali ada jasa bersih-bersih rumah dan antar makanan.

Berkat layanan-layanan seperti ini, saya merasa sangat terbantu.

Bagi para bunda dengan keterbatasan finansial, cobalah meminta bantuan dari pasangan atau mertua. Komunikasikan dengan baik keterbatasan Anda agar mereka memahami kondisi Anda.

Biasanya, selama disertai alasan-alasan yang masuk akal, mereka akan dengan senang hati menolong, kok.

Bahkan, kita juga bisa sesekali menugasi pasukan cilik untuk melakukan tugas-tugas ringan, seperti merapikan kasurnya sehabis tidur atau membereskan mainannya.

Selain meringankan beban kita, ini juga merupakan taktik yang bagus untuk mengajarkan tanggung jawab kepada mereka.

Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. 😉


4. Meditasi

 

Belakangan ini, saya membiasakan diri untuk bermeditasi selama sedikitnya sepuluh menit di pagi hari.

Secara pribadi, saya merasakan manfaat luar biasa dari kegiatan ini, lebih-lebih dalam menenangkan pikiran saya.

Tiap kali kepala berdenyut-denyut karena pening, saya juga bermeditasi.

Setelah melakukannya, otot-otot yang kaku terasa lebih enteng, dan pening pun berkurang.

Efek relaksasinya betul-betul terasa.

Saya tidak bisa bicara banyak soal manfaat meditasi dari sudut pandang kesehatan, tapi berdasarkan pengalaman saya, meditasi jelas-jelas bagus bagi ketenangan jiwa saya.

Saya sarankan Moms juga mencobanya, deh.

Ada banyak panduan meditasi untuk pemula di YouTube (guided meditation) jika Moms tertarik untuk bermeditasi.


5. Kurangi Ekspektasi pada Diri Sendiri

 

Cara mengatasi stres pada ibu rumah tangga yang terakhir menurut saya yakni dengan mengurangi ekspektasi pada diri sendiri.

Jujur, deh, bagaimana perasaan Anda melihat kondisi rumah yang kacau balau bahkan setelah Anda merapikannya berkali-kali?

Kesal?

Saya pun kesal, tapi apa mau dikata, mempertahankan rumah yang rapi nyaris mustahil kalau tiap lima menit sekali anak-anak bertingkah dan membuat kekacauan.

Betul, penting juga untuk mendisiplinkan anak agar mereka tahu mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Tapi, tingkat kekacauan yang anak-anak perbuat kemungkinan besar tidak terlalu parah.

Maka, yang perlu kita perbuat adalah untuk menjadi fleksibel.

Jika hanya satu bagian di dalam rumah (dapur, misalnya) sedang dalam keadaan kotor, sementara ruangan lain bersih tanpa noda setitik pun, apakah itu menjadikan kita tinggal di hunian yang kotor?

Tidak, bukan?

Jadi, janganlah bersikap terlalu keras pada diri sendiri.

Toh, kalau kita tidak mampu membersihkannya hari ini, masih ada hari esok, lusa, atau minggu depan.

Atau, kita bisa menengok poin ke-4 dari postingan ini, dan mengingatkan diri untuk memesan jasa bersih-bersih rumah.

Sungguh, mengekang diri sendiri dengan ekspektasi yang tidak sehat itu amat merugikan.

Dan, ujung-ujungnya, kita sendiri yang dirugikan. 😖

 

Meski ada berbagai macam penyebab stres pada ibu rumah tangga, saya tetap bersyukur menyandang predikat sebagai ibu rumah tangga, dan bisa tinggal di rumah bersama anak saya, menyaksikan pertumbuhannya dari dekat.

Padahal, saya selalu diberi kesempatan jika saya ingin kembali berkarier, tapi saya tolak tawaran-tawaran yang ada.

Dengan mengatur mindset yang tepat, saya percaya situasi-situasi yang memicu stres bisa dihindari.

Moms, bagikan cara Anda mengatasi stres pada ibu rumah tangga di kolom komentar, ya, dan sampai jumpa di postingan blog "Diari Is" lainnya. 👋

Selasa, 20 Juli 2021

Perlu Anda Coba! Ini 5 Cara Mengatasi Anak Susah Makan

Perlu Anda Coba! Ini 5 Cara Mengatasi Anak Susah Makan

Cara Mengatasi Anak Susah Makan

Moms, bagaimana cara mengatasi anak susah makan terampuh versi Anda?

Bagi para bunda yang selama bertahun-tahun belum pernah sekalipun tersandung dilema ini, bersyukurlah.

Bagi saya pribadi, sulit menemukan jalan keluar dari permasalahan ini ketika saya pertama kali mengalaminya.

Rasanya, saya sampai dibuat stres setengah mati gara-gara kerewelan anak yang cenderung pemilih soal makanan.

Bagaimana tidak stres? Hati terasa dongkol melihat si kecil yang dengan gigihnya menolak untuk disuapi, padahal ibunya sudah berjibaku di dapur berjam-jam lamanya demi menyiapkan makanan tersebut.

Duh, pusing 'pala Barbie. 💫

Selain itu, kejadian ini juga bikin saya panas-dingin.

Karena oh karena, menurut beberapa sumber, anak yang susah makan cenderung berisiko mengalami kekurangan gizi dan nutrisi.

Akibatnya, pertumbuhan anak pula yang mesti dipertaruhkan!

Astaghfirullah, mana tega saya membiarkan buah hati saya terkena dampak mengerikan seperti itu? 😢

Alhamdulillah, berkat masukan dari para ibu tangguh di sekitar saya dan literatur-literatur bermanfaat yang saya jumpai di Internet, sekarang saya sudah lumayan mahir dalam mengatasi drama anak susah makan, dong.

Dan, di postingan kali ini, saya akan berbagi dengan bunda-bunda sekalian mengenai cara-cara yang telah saya praktikkan.

Mudah-mudahan cara-cara yang menurut saya mujarab ini bisa mengatasi stres pada ibu rumah tangga lantaran penolakan demi penolakan dari si kecil.

Yuk, kita bahas satu-persatu cara mengatasi anak susah makan versi saya.

­

1. Hadapi dengan Sabar

Sepertinya, apapun tantangan yang menghadang, para ibu senantiasa dituntut untuk menghadapinya dengan sabar.

Entah apa jadinya kalau stok sabar kita menipis ya, Moms?

Tapi, saya percaya, Anda adalah sosok ibu yang penyabar.

Bahkan, saya juga yakin stok sabar Anda melebihi banyaknya air di samudera.

Dengan begitu, Anda usah mengomel panjang lebar hingga penat karena anak tidak kunjung menelan makanan di mulutnya, seperti yang sering saya alami. 💔

Dari pengalaman pribadi, dengan mengomeli anak, saya bukannya dapat respons yang sesuai, eh, si kecil malah makin berontak tidak karuan, dong.

Alamak, ini, sih, buang-buang energi namanya! 😵

Alhasil, entah sejengkel apapun perasaan saya kala menyuapi anak, saya selalu mengingatkan diri sendiri untuk menahan amarah.

Daripada menyia-nyiakan tenaga saya untuk memarahi anak, yang toh setelah mendapat omelan itu tidak juga serta-merta berubah secara otomatis, lebih baik saya alihkan fokus saya pada bagaimana cara agar anak mau makan.

Tentunya, ini lebih menghemat waktu dan menekan tingkat frustrasi saya.

Pun, dengar-dengar, cara ini bukan cuma menguntungkan kita, Moms.

Anak-anak rupanya rentan terjangkiti stres juga jika kita terlalu keras menekannya.

Jadi, hindari membentak anak saat ia enggan makan.

Coba cara mengatasi anak susah makan lainnya untuk mendorong kemauan anak secara natural, ya.


2. Ketahui Apa Sebab Anak Susah Makan

Sebetulnya, sebagai orang tua, terkadang kita seringkali mengabaikan perasaan anak-anak.

Hanya karena ia lebih muda, kita kerap meremehkan pendapatnya. Moms, pernahkah Anda bertanya pada buah hati Anda, apa yang membuatnya enggan makan?

Saya pernah melakukannya, dan saya terkejut mendengar jawaban dari anak saya.

Usut punya usut, sebetulnya dia sedang tidak lapar, dong!

Duh, saya terlanjur pusing tujuh keliling memikirkan apa penyebabnya.

Rupanya alasannya sesederhana itu.

Jangankan anak kecil, orang dewasa saja juga kerap sulit makan, kok.

Ya mau bagaimana lagi kalau lapar itu belum menghampiri! Jika dipaksa, yang ada justru timbul rasa eneg.

Betul 'kan, Moms?

Juga, bisa jadi anak Anda pilih-pilih makanan lantaran ketakutan mereka terhadap "makanan" yang Anda sajikan.

"Takut" yang saya maksud di sini sendiri bisa merujuk ke berbagai macam hal.

Barangkali, anak-anak takut melihat jumlah porsi makanan yang terlalu banyak.

Atau, ia takut mencicipi makanan baru, yang mana warna, aroma, dan penampakannya berbeda dari apa yang biasanya Anda sajikan.

Jika betul penyebabnya karena rasa asing tersebut, maka Moms bisa mengakalinya dengan pelan-pelan mengenalkan makanan baru pada si kecil.

Secara bertahap saja melakukannya, Moms, agar anak terbiasa.

Begitu ia mau menerima makanan baru tersebut, barulah Anda bisa mengenalkan jenis makanan baru lainnya.

Tapi, bisa jadi penyebab anak susah makan karena hal-hal lainnya.

Dan, Anda patut waspada kalau salah satunya adalah karena hal-hal berikut:

  • Diare
  • Sembelit
  • Esofagitis
  • Intoleransi makanan

Kalau Anda khawatir anak Anda terserang salah satu dari gangguan kesehatan di atas, jangan ragu memeriksakan anak ya, Moms.

Lebih cepat lebih baik, pastinya.


3. Sajikan dalam Porsi Kecil

Menyambung dari poin sebelumnya, saya senantiasa tanggap jika anak menunjukkan gelagat aneh saat saya menyodorkan piring ke hadapannya.

Saya tahu, kalau raut mukanya terlihat enggan, bisa jadi itu karena porsi yang saya berikan terlalu banyak untuknya.

Biasanya, anak segera melahap apa yang saya berikan begitu porsinya saya sesuaikan lagi.

Kalau Anda mengalami hal yang sama, cara mengatasi anak susah makan yang satu ini layak untuk dicoba, Moms.

Sebagai orang dewasa, bukan hal aneh jika kita salah mengestimasi seberapa besar ruang di dalam perut anak yang betul-betul cukup untuk menampung makanan.

Belum lagi, kita juga kerap lupa apa-apa yang anak lahap sebelum jam makan tiba.

Seringkali, saya suka kelewatan memberi camilan untuk anak saya. 😅

Dan, anggapan saya, di perutnya masih ada ruang untuk menampung makanan berat.

Eh, perkiraan saya salah besar, dong!

Akhirnya, saya kurangi banyaknya nasi, lauk, dan sayur yang saya berikan pada anak.

Alhamdulillah, trik sederhana ini berhasil, Moms.

Agak-agaknya, saya perlu memikiran kembali soal pemberian camilan pada anak.

Anda mungkin juga perlu melakukannya kalau Anda mencurigai camilan adalah penyebab anak Anda susah makan. 😀

Umumnya, orang tua beranggapan anak akan kelaparan kalau diberi makanan dalam porsi sedikit.

Tapi, hemat saya, ini bisa diatasi dengan memberikan anak apa yang ia butuhkan dalam frekuensi yang lebih sering.


4. Hidangkan Makanan dengan Tampilan yang Menarik

Mungkinkah jika sedari kecil anak-anak mengerti soal konsep "dari mata turun ke hati"?

Menurut saya, sih, itu ada benarnya juga, Moms. 😅

Lebih-lebih lagi di usia yang sangat belia, anak-anak gampang tertarik dengan segala sesuatu yang tampak mencolok secara visual.

Dan, untuk soal makanan, saya rasa prinsip yang sama juga berlaku.

Memang, sih, butuh usaha ekstra untuk memasak makanan yang kelihatan menarik di mata anak-anak.

Saya bahkan kudu mengubek-ubek Cookpad dulu semalaman, mencari inspirasi resep kreatif untuk diolah keesokan harinya.

Tapi, sadarkah Anda betapa beruntungnya kita saat ini, Moms?

Orang dulu mesti belajar memasak dari buku resep.

Membaca penjelasan yang ada saja terkadang belum cukup untuk membantu mereka dalam mengolah sajian yang enak. 😥

Sekarang, kita dimudahkan dengan adanya YouTube dan blog resep di Internet.

Tinggal ketikkan kata kunci seperti "resep bento enak" dan tunggu beberapa detik, voila, jawaban yang kita butuhkan pun muncul!

Kalau dengan segala kemudahan ini Anda masih beralasan "nggak bisa masak", cara lainnya, ya, dengan memesan dari jasa katering.

Jadi kreatif sungguh melelahkan, tapi jika itu demi kebaikan anak sendiri, ibu manapun pasti sanggup melakukannya.

Saya juga mulanya bukan tipe orang yang terlalu mementingkan soal penampilan makanan, kok.

Tapi, kalau itu bisa meningkatkan selera makan anak, saya rela bersusah-payah mengkreasikan aneka olahan yang rumit setiap hari deminya.

Beginilah hati orang tua.

Asal anak senang, saya juga senang. 😂


5. Libatkan Anak dalam Proses Penyajian Makanan

Boleh jadi anak-anak yang merasa takut dengan makanan asing di depanya mencurigai adanya sesuatu yang "aneh" di dalamnya.

Dan, meskipun kita sudah jelaskan hingga mulut berbusa kalau itu adalah makanan terenak, tersehat yang pernah kita buat, sepertinya tidak ada satupun yang bisa mengalahkan ketakutan anak kita, Moms.

Ya, kecuali satu: mengajaknya untuk turut menyiapkan makanannya sendiri. 😉

Anak saya pun begitu.

Saya masih ingat wajah terkejutnya melihat spaghetti untuk pertama kalinya.

Kira-kira apa yang ada di benaknya saat itu, ya? 😅

Apakah ia mengira itu adalah cacing?

Bisa jadi! 😂

Sampai saya mengajaknya ke dapur, mengamati secara langsung bagaimana sang chef mengolah spaghetti. 😏

Dari sana, ia akhirnya tahu bahwa itu bukan cacing, ataupun benda menjijikkan lainnya yang perlu ditakuti.

Itu cuma makanan menyerupai mie yang terbuat dari tepung, direbus dan dilumuri saus setelahnya!

Seeing is believing, mungkin itulah cara kerja otak anak kita, Moms.

Maka lain kali, kalau Anda hendak mengenalkan makanan baru pada buah hati Anda, ajak ia ke dapur dan suruh ia mengamati keseluruhan proses memasak Anda.

Persilakan ia untuk mencicipi, agar ia tahu bahwa makanan itu baik-baik saja dikonsumsi.

Dengan begitu, kecurigaan anak pun akan luntur sepenuhnya.

 

Tingkah laku dan cara berpikir anak yang unik sepertinya tidak akan pernah habis membikin kita tercengang ya, Moms.

Ada saja segudang hal yang ia perbuat yang membuat kita pusing tujuh keliling, termasuk kebiasaannya susah makan.

Selama kita mampu mencari tahu penyebabnya, selalu ada cara mengatasi anak susah makan untuk mengembalikan selera makannya.

Moms, pernahkah Anda dipusingkan oleh perkara yang sama?

Lalu, apa trik Anda untuk menyelesaikan masalah tersebut?

Bagaimana hasilnya?

Bagikan cara mengatasi anak susah makan versi Anda di kolom komentar, ya, dan sampai ketemu lagi di postingan blog Diari Is lainnya. 👋